A.   Deskripsi Studi Kasus

Pada praktik pengalaman lapangan yang telah saya lakukan selama satu semester,  terdapat sebuah permasalahan yang menjadi pemantik perhatian saya sebagai guru, yaitu terjadinya Peserta didik kurang termotivasi untuk belajar kejuruan. Hal tersebut ditunjukkan adanya peserta didik kurang memiliki keberanian untuk mengajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan didalam mengerjakan tugas yang diberikan. Sehingga peserta didik mencari jalan pintas dengan mecontek hasil pekerjaan temannya. Sehingga menyebabkan miskonsepsi tentang simbol dan seterusnya. Simbol system pneumatic terkadang dan sering tertukar, sehingga prinsip kerjanya pun juga ikut tertukar begitu juga sebaliknya. Bahkan gambar simbolnya pun jadi tidak beraturan/standar lagi, ketika di gambar oleh peserta didik, karena konsepnya belum peserta didik pahami sepenuhnya.

Hal ini merupakan permasalahan yang harus segera diatasi, mengingat materi pembelajaran ini adalah dasar dari teknik kontrol makatronika, yang erat berkaitan erat. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi akar permasalahan yaitu dengan memerhatikan metode dan model pembelajaran, media pembelajaran serta karakteristik peserta didik/gaya belajarnya. Sehingga kemampuan pedagogik guru dalam merancang pembelajaran, memilih model dan metode pembelajaran serta kemampuan menggunakan teknologi pembelajaran sangat relevan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

B.   Analisis Situasi

Analisis situasi kasus di atas yaitu pembelajaran pneumatic dan hidrolik di kelas yang masih menggunakan metode konvensional tanpa adanya, pembelajaran masih terpusat pada guru, dan pembelajaran hanya bersumber pada buku/diktat yang disediakan/dibuat oleh guru. Hal tersebut menyebabkan rendahnya minat belajar peserta didik kelas XI pada pembelajaran system pneumatik, yang pada akhirnya menyebabkan  ketidaktertarikan pada materi tersebut. Dengan meningkatnya minat belajar, maka peserta didik akan lebih aktif saat belajar, bisa mengingat materi dan merasa tidak jenuh saat proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran lebih mudah tercapai. Untuk meningkatkan minat dan semangat belajar peserta didik saya menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) berbantuan aplikasi fluidsim untuk membuat rangkaian sederhana sampai kompleks dan penerapan simbol/gambar system pneumatik dan mensimulasikannya.

Tantangan dan hambatan yang akan dihadapi dalam merancang dan mengevaluasi pembelajaran yang berbasis project base learning (PjBL) yang didukung dengan pembelajaran yang inovatif untuk mengatasi permasalahan kemandirian belajar peserta didik rendah, adalah:

  • Belum bisa menentukan model pembelajaran yang tepat sebagai solusinya,
  • Media pembelajaran yang variative dan berbasis IT sesuai dengan karakteristik dari peserta didik itu sendiri, pada penerapan model project base learning (PjBL) dibutuhkan kreatifitas guru dalam memilih metode-metode pembelajaran yang sesuai sebagai solusi dari permasalahan ini.

Pada tahap perancangan pembelajaran, terlebih dahulu saya mengobservasi permasalahan yang ada dalam kelas tersebut, kemudian merancang model pembelajaran PjBL mulai dari membuat Modul Ajar, media pembelajaran (PPT dan video pembelajaran tentang fungsi fluidsim), dan soal evaluasi.  Dalam merancang hal tersebut saya lakukan sendiri namun tetap berkonsultasi kepada teman sejawat. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran yang saya laksanakan di kelas XI Teknik Mekatronika. Dan tahap terakhir adalah tahap refleksi yang bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.

Hambatan yang saya alami adalah pada tahap perancangan pembelajaran yang membutuhkan banyak waktu dan tambahan materi pembelajaran. Sedangkan tantangan yang saya hadapi adalah dalam memfasilitasi alat pembelajaran berupa unit komputer dan aplikasi di dalamnya yang dapat meningkatkan minat dan pemahaman belajar peserta didik dan dapat digunakan untuk menguji hasil proyek peserta didik. Hambatan dan tantangan tersebut menjadi pemicu semangat untuk merancang pembelajaran yang dapat meningkatkan minat belajar siswa dan lebih memantapkan pemahaman siswa terhadap materi system pneumatic dan hidrolik.

 C.  Alternatif Solusi

Dengan menggunakan Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) berbantuan aplikasi Fluidsim pada pembelajaran kejuruan Mekatronika, pada materi system pneumatic dan hidrolik, merupakan solusi bagi kasus rendahnya minat peserta didik pada pembelajaran system pneumatic dan hidrolik. Hal ini karena model pembelajaran PjBL berbantuan aplikasi fluidsim memungkinkan peserta didik untuk belajar lebih menyenangkan dan antusias dalam pembelajaran. Media pembelajaran berbasis komputer dengan bantuan aplikasi fluidsim saya pilih untuk menunjang pembelajaran PjBL dikarenakan software tersebut golongan opensource (gratis), dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik, dan menciptakan variasi serta kejutan dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran dimulai dari kegiatan pembuka, inti, dan penutup. Pada kegiatan inti terdiri dari tahap penyajian kelas, yang mana guru pengajar memaparkan materi melalui PPT, tata cara mengerjakan proyek, dan aturan memakai komputer serta teori tentang rangkaian pneumatic secara simulasi. Selanjutnya tahap belajar dalam kelompok, peserta didik di bagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari 4-5 orang dengan kemampuan heterogen. Disini saya sudah membagi kelompok pada pertemuan sebelumnya. Pada tahap ini kelompok mengerjakan LKPD. Selanjutnya tahap Pengerjaan proyek, setiap kelompok diberikan waktu untuk mengerjakan proyek pada kelompok masing-masing, memahami dan membagi tugas dan mengisi laporan pada lembar kertas yang telah disediakan. Setelah itu guru pengajar akan menilai dan memberikan skor apabila kelompok menjawab dengan benar. Selanjutnya tahap presentasi, disini perwakilan setiap kelompok maju ke depan kelas, menampilkan hasil proyek mereka, menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru pengajar atau kelompok yang lain dan mendapatkan skor apabila menjawab dengan benar.

Dan terakhir tahap penghargaan kelompok, disini kelompok dengan skor terbanyak akan mendapatkan penghargaan  dari guru pengajar. Penilaian pembelajaran yang saya lakukan meliputi pretest/Asesmen Awal di awal pembelajaran, pengerjaan LKPD dan Laporan Proyek, soal evaluasi/Asesmen Formatif. Pada saat pembelajaran saya dan teman sejawat melakukan pengamatan terhadap sikap peserta didik. Selanjutnya saya dan teman sejawat melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah saya lakukan.

Adapun Langkah penerapan model project base learning (PjBL) yang dilakukan guna mengatasi permasalahan adalah sebagai berikut (Trianto 2014:49) : tujuan metode PjBL ini,adalah:  1) mendapatkan wawasan yang luas terhadap peserta didik dalam menghadapi permasalahan secara langsung; 2) update keterampilan serta keahlian berpikir secara kritis dalam menghadapi permasalahan yang diterima. Dari tujuan tersebut diatas maka dapat dilihat garis besarnya tujuan dalam penerapan metode ini yaitu untuk mengasah serta memberikan kebiasaan kepada peserta didik dalam melakukan kegiatan berpikir kritis untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang diterima dan selain itu juga mengembangkan wawasan pesertia didik.

Penerapan model pembelajaran PjBL ini juga dibantu dengan menggunakan media berbasis IT yang interaktif sehingga bisa menarik perhatian dari peserta didik itu sendiri nantinya yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

 D.  Evaluasi

Minat belajar peserta didik dapat ditingkatkan dengan cara penerapan model pembelajaran yang sesuai, penggunaan media pembelajaran yang menarik dan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran. Beragam media pembelajaran yang saya buat seperti pengembangan LKPD  dengan memberikan stimulus pemecahan masalah proyek dalam bentuk video, artikel dan gambar, mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok kecil beranggotak 4 - 5 orang memberikan dampak yang positif seperti peningkatan partisipasi siswa dalam menyelesaikan LKPD, proyek dan laporan proyek  dan melatih mereka dalam menemukan sendiri ide dan gagasannya dalam menjawab dan mengkomunikasikan masalah yang mereka temukan, hal ini juga melatih mereka untuk berpikir kreatif. Partisipasi peserta didik terlihat ketika mereka membagi tugas dan tanggung jawab dalam mengerjakan dan mengkomunikasikan hasil diskusi mereka dalam bentuk laporan proyek dan presentasi.

Hasil dan efek dari langkah nyata yang telah dilakukan dari penerapan model project base learning (PjBL) yang telah saya lakukan terhadap peserta didik secara umum bersemangat dalam proses pembelajaran yang diikuti. Peserta didik tertarik dan senang sehingga tumbuh rasa percaya diri dalam proses pembelajaran dalam kelas dan menikmatinya.peserta didik aktif mengikuti pembelajaran dan berkolaborasi dalam mendiskusikan serta mempraktikan dan bisa mempersentasikan hasil dari jobsheet yang diberikan oleh guru tanpa adanya melakukan tindakan mencontek hasil pekerjaaan dari pesert didik yang lain. Hasil  yang sangat mengembirakan adalah hasil belajar dari peserta didik mengalami peningkatan yang sangat sigifikan. Terbukti dari jumlah 32 peserta didik  melampaui KKM yang telah ditetapkan dalam pembelajaran ini.

Peningkatan berpikir kreatif terlihat ketika mreka mengkomunikasikan dan menganalisis masalah yang ada pada LKPD dan laporan proyek dengan ide, konsep dan gagasan sendiri yang terlihat dalam bagaimana mereka menjawab pertannyan yang mereka munculkan sendiri. Dalam proses pembelajarn tidak semua peserta didik mengalami peningkatan namun dengan kemapuan dan keunikanya masing-masing ada yang kurang kreatif sampai yang sangat kreatif. Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam proses pembelajaran ini.