Mengawali kegiatan sekolah pada bulan Ramadan, SMKN 5 Banjarmasin mengadakan Pesantren Ramadan selama lima hari, yaitu pada tanggal 6, 7, 10, 11, dan 12 Maret 2025. Kegiatan ini bertempat di Aula SMKN 5 Banjarmasin dan diikuti oleh siswa-siswi kelas X dan kelas XI. Kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan edaran Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 0154.1 Tahun 2024 tentang Pedoman Penyusunan Kalender Pendidikan Satuan Pendidikan SMA, SMK, dan SLB Tahun Pelajaran 2024/2025.

Pelaksanaan Pesantren Ramadan dibuka secara resmi oleh Kepala SMKN 5 Banjarmasin, Dr. Drs. H. Syahrir, M.M. Dalam sambutannya, beliau mengingatkan pentingnya bersyukur karena diberi kesempatan kembali bertemu bulan Ramadan tahun ini, mengingat banyak orang yang tidak lagi memiliki kesempatan tersebut karena telah meninggal dunia. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya membaca Al-Qur'an beserta terjemahannya agar memahami makna ayat yang dibaca dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah acara dibuka secara resmi oleh kepala sekolah, kegiatan dilanjutkan dengan kajian agama seputar puasa Ramadan yang disampaikan oleh Bapak Syahrawi, M.Pd.I. dengan mengangkat tema "Hal-hal yang Membatalkan Pahala Puasa." Beliau menyampaikan bahwa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan pahala, melainkan hanya merasakan lapar dan haus. Hal ini diibaratkan seperti orang yang bekerja tetapi tidak menerima upah atau gaji, yang tentu sangat merugikan. Beliau menjelaskan bahwa berdasarkan hadis, terdapat lima perkara yang dapat membatalkan pahala puasa:

  1. Berdusta
    Seseorang yang berpuasa tetapi berkata dusta atau berbohong tidak akan mendapatkan pahala puasanya. Berdasarkan hadis Nabi SAW, kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Sebaliknya, dusta membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka.

  2. Ghibah
    Ghibah adalah membicarakan aib atau kejelekan orang lain sehingga orang lain ikut mengetahuinya. Walaupun yang disampaikan itu benar, tetap disebut ghibah, sedangkan jika tidak benar, maka disebut fitnah. Dalam Al-Qur’an, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, karena jika seseorang dibunuh, hal itu hanya terjadi sekali, tetapi fitnah bisa menghancurkan seseorang berkali-kali. Luka fisik bisa diobati, tetapi luka di hati sangat sulit disembuhkan. Oleh karena itu, jagalah ucapan dan berbicaralah yang baik atau lebih baik diam, sebagaimana hadis yang mengatakan: "Qul khairan au liyasmut" (Katakan yang baik atau diam).

  3. Namimah
    Namimah adalah sifat seseorang yang suka mengadu domba atau memprovokasi, baik antarindividu, antarkelompok, maupun antarkampung, sehingga menyebabkan pertikaian. Selain kehilangan pahala puasa, orang yang melakukan namimah juga diancam dengan siksa kubur. Hal ini sesuai dengan hadis yang menceritakan bahwa Nabi SAW pernah melewati dua kuburan, lalu unta beliau berhenti. Nabi kemudian bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian mengapa unta ini berhenti?" Para sahabat menjawab, "Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui." Lalu Nabi bersabda, "Unta ini berhenti karena mendengar dua penghuni kubur ini sedang disiksa. Yang pertama disiksa karena tidak bersuci dengan baik setelah buang hajat, dan yang kedua disiksa karena suka mengadu domba."

  4. Sumpah Palsu
    Pada hakikatnya, sumpah boleh dilakukan untuk memperkuat keyakinan bahwa suatu pernyataan benar. Namun, jika seseorang bersumpah untuk membenarkan sesuatu yang salah atau bersumpah akan melakukan sesuatu tetapi tidak melakukannya, maka hukumnya haram.

  5. Melihat dengan Syahwat
    Melihat dengan syahwat berarti dengan sengaja melihat sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Jika seseorang tidak sengaja melihat, maka hal itu dimaafkan, asalkan segera sadar bahwa hal tersebut dilarang, kemudian beristighfar dan mengalihkan pandangan. Namun, jika malah diteruskan, maka itu menjadi dosa. Wallahu a'lam.  By.Guru PAI